sumber1news
Jakarta – Kampung Boncos di Palmerah, Jakarta Barat, dikenal sebagai sarang narkoba sejak 1996 karena peredaran berbagai jenis barang haram seperti sabu dan ganja yang sulit diberantas sepenuhnya.
Berbagai razia polisi sering dilakukan, tapi transaksi tetap marak bahkan 24 jam sehari.

Kepadatan Penduduk
Kampung ini sangat padat dengan gang sempit dan lorong rumit, membuat pengawasan polisi sulit karena pelaku mudah bersembunyi atau pindah ke kampung tetangga saat razia.
Lokasinya jauh dari pos polisi utama, sehingga bandar merasa aman untuk beroperasi.
Banyak Pengguna Lokal
Jumlah pengguna narkoba yang tinggi menciptakan pasar besar, menarik bandar dari luar daerah untuk menjual barang haram.
Warga setempat sering terlibat sebagai pemakai atau pengedar kecil, memperkuat jaringan internal.
Simbiosis Mutualisme
Ada hubungan saling menguntungkan antara bandar dan warga: pengedar beri narkoba gratis awalnya, ciptakan ketergantungan emosional dan finansial, sehingga warga enggan lapor atau malah ikut jual untuk biayai kecanduan.
Warga takut dibakar rumah jika melawan atau beri info ke polisi.
Modus Canggih Pelaku
Pelaku gunakan sistem shift untuk transaksi, bersihkan barang 3 jam sebelum razia, dan selundupkan narkoba via perempuan agar tak curiga.
Meski ada pos polisi pencegahan, akar masalah seperti tanah sengketa historis dan ketenaran internasional bikin sulit musnah total. Sumber Polri-BNN
(Red)


