sumber1news

Kabupaten Tangerang – Dugaan praktik produksi dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) ilegal kembali mencuat. Sebuah mobil tangki bermuatan sekitar 40.000 liter solar diduga merupakan hasil olahan dari oli bekas, yang diberangkatkan dari kawasan “Akong”, Kabupaten Tangerang, menuju Gresik, Jawa Timur.

Informasi ini diperkuat oleh keterangan sopir kendaraan tangki yang mengaku mengambil muatan langsung dari lokasi tersebut.
“Saya ambil muatan dari kawasan Akong, Kabupaten Tangerang. BBM sudah siap, tinggal angkut ke Gresik,” ujar sopir.

Sopir juga mengaku tidak mengetahui secara pasti asal-usul maupun legalitas bahan bakar tersebut.
“Saya hanya disuruh antar, tidak tahu itu resmi atau tidak,” tambahnya.

Berdasarkan penelusuran awal, solar yang diangkut tersebut diduga kuat merupakan hasil pengolahan limbah oli bekas menjadi bahan bakar menyerupai solar. Praktik ini, apabila dilakukan tanpa izin, berpotensi melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup karena termasuk pengelolaan limbah B3 secara ilegal.

Selain itu, pengangkutan dan distribusi BBM dalam jumlah besar tanpa izin usaha niaga dan dokumen resmi juga berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

Dengan volume mencapai puluhan ribu liter dan pengiriman lintas provinsi, aktivitas ini diduga merupakan bagian dari jaringan distribusi BBM ilegal yang terorganisir, bukan sekadar praktik kecil.

Aktivitas pengolahan oli bekas menjadi solar juga menimbulkan risiko serius terhadap lingkungan, mulai dari pencemaran tanah hingga udara, apabila tidak dilakukan dengan teknologi dan standar yang sesuai.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai legalitas usaha pengolahan maupun distribusi BBM tersebut. Aparat penegak hukum diminta segera turun tangan untuk menelusuri sumber produksi di kawasan “Akong” serta mengungkap pihak-pihak yang terlibat.

Masyarakat berharap adanya tindakan tegas guna mencegah kerugian negara dan dampak lingkungan yang lebih luas.

Red – tim