sumber1news
Kabupaten Tangerang — Dugaan praktik penjualan obat keras tanpa izin kembali ditemukan di wilayah Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang. Aktivitas tersebut terpantau berlangsung di tepi Jalan Raya Kutabumi, Desa Karet, tepat di area samping tempat pencucian kendaraan.
Temuan ini memicu kekhawatiran warga karena disebut masih beroperasi meski sebelumnya pernah ditertibkan.

Hasil penelusuran di lokasi menunjukkan adanya aktivitas transaksi yang diduga terkait penjualan obat keras golongan tertentu tanpa resep dokter. Sejumlah pembeli terlihat datang dan pergi dalam waktu singkat. Lapak tampak beroperasi secara terbuka di pinggir jalan.

Saat dikonfirmasi di lokasi, seorang pria berinisial AM mengaku menjual beberapa jenis obat keras. “Ada tramadol dan heximer, per butir Rp5.000, satu lembar Rp50.000,” ujarnya kepada tim penelusur. Pengakuan tersebut menimbulkan dugaan adanya peredaran obat keras tanpa mekanisme farmasi resmi.
Warga sekitar menyatakan keresahan atas aktivitas tersebut. Menurut keterangan salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, lokasi itu sebelumnya disebut pernah didatangi aparat. Namun, aktivitas penjualan diduga kembali berjalan.
“Katanya sudah pernah ditangani, tapi buka lagi. Kami khawatir dampaknya ke anak-anak muda di lingkungan sini,” ujarnya.
Dari dokumentasi lapangan, terlihat aparat kepolisian bersama unsur masyarakat melakukan pengecekan dan penertiban di sekitar titik lokasi. Sejumlah material lapak tampak dibongkar. Namun warga mempertanyakan keberlanjutan pengawasan agar praktik serupa tidak kembali berulang.
Kapolsek Sepatan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat menyatakan pihaknya menerima informasi tersebut dan akan melakukan tindak lanjut. Pihak kepolisian juga meminta titik lokasi detail untuk memastikan langkah pengecekan lapangan.
Secara regulasi, peredaran obat keras tanpa izin edar dan tanpa resep dokter berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pasal 196 dan 197 mengatur ancaman pidana bagi pihak yang memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin. Namun, penetapan pelanggaran tetap bergantung pada proses penyelidikan dan pembuktian oleh aparat penegak hukum.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi lanjutan terkait hasil penindakan, status penjual, maupun penyitaan barang bukti di lokasi tersebut. Tim media masih berupaya meminta konfirmasi tambahan dari pihak berwenang.
(Redaksi — Investigasi Lapangan
Iwan Belo



