sumber1news

Kota Tangerang

Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili di Kota Tangerang menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2026. Momentum hari ke-15 dalam kalender lunar ini tidak sekadar dimaknai sebagai tradisi seremonial, melainkan sebagai simbol penyempurnaan doa, artikulasi harapan, dan refleksi spiritual umat Tionghoa dalam menyongsong tahun yang baru.

Perayaan dipusatkan di Klenteng Boen Tek Bio, yang terletak di Jalan Bhakti, Pasar Lama, Kota Tangerang, pada Senin malam (2/3/2026). Klenteng ini merupakan salah satu rumah ibadah tertua di Kota Tangerang yang selama berabad-abad menjadi episentrum spiritual, sosial, dan kultural komunitas Tionghoa. Lanskap klenteng yang dihiasi ratusan lampion menghadirkan atmosfer sakral sekaligus inklusif, mencerminkan bagaimana tradisi religius mampu menjadi ruang perjumpaan lintas identitas dalam bingkai kebangsaan.

Secara etimologis, Cap Go Meh berarti “malam kelima belas”, yang diperingati setiap tanggal 15 bulan pertama dalam kalender lunar Tiongkok. Dalam perspektif Konghucu dan Buddhis, momen ini memiliki dimensi teologis sebagai fase penyempurnaan doa sejak awal tahun. Ia menjadi ruang kontemplasi, di mana harapan tidak berhenti pada simbol ritual, melainkan bertransformasi menjadi etika sosial yang membumi.
Rangkaian persembahyangan bersama, penyalaan lilin, serta doa keselamatan bagi bangsa dan masyarakat merefleksikan kesadaran kolektif bahwa spiritualitas memiliki implikasi sosial. Lampion yang menggantung bukan sekadar ornamen estetis, tetapi metafora terang harapan, optimisme, dan kebajikan yang diharapkan menyertai perjalanan setahun ke depan.

Ketua Perkumpulan Boen Tek Bio, Ruby Santamoko, menegaskan bahwa Cap Go Meh 2577 Kongzili merupakan momentum spiritual yang merepresentasikan kristalisasi harapan umat di tengah dinamika sosial yang terus bergerak.

“Ini adalah fase kontemplatif. Doa-doa yang dipanjatkan sejak awal tahun digenapkan dalam kesadaran spiritual. Harapan harus diwujudkan dalam praktik hidup yang membawa kedamaian dan kebajikan sosial,” ujarnya.

Menurutnya, dalam konteks Kota Tangerang yang majemuk, Cap Go Meh telah berkembang menjadi ruang harmoni lintas etnis dan agama. Keterbukaan perayaan bagi publik mencerminkan komitmen Boen Tek Bio dalam merawat toleransi sebagai fondasi identitas kebangsaan.

“Keberagaman bukan sekadar realitas demografis, melainkan anugerah yang memerlukan kesadaran kolektif. Cap Go Meh adalah simbol kohesi sosial dan penguatan identitas Indonesia yang plural,” tegasnya.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi budaya, Perkumpulan Boen Tek Bio mengedepankan pendekatan adaptif dalam menjaga autentisitas tradisi. Substansi ritual tetap dipertahankan, sementara strategi komunikasi diperluas melalui edukasi sejarah klenteng, literasi budaya, serta pelibatan aktif generasi muda dalam kepanitiaan dan kegiatan sosial.

Langkah tersebut dinilai krusial untuk memastikan regenerasi nilai berlangsung secara organik dan berkelanjutan. Tradisi, dalam perspektif ini, tidak dibekukan sebagai artefak masa lalu, tetapi dihidupkan sebagai energi sosial yang relevan dengan tantangan zaman.
Adapun tantangan terbesar tahun ini, menurut Ruby, bukan semata persoalan teknis penyelenggaraan, melainkan menjaga persepsi publik agar memahami Cap Go Meh sebagai perayaan yang inklusif dan memiliki nilai universal. Pendekatan dialog, transparansi, dan kolaborasi lintas komunitas menjadi strategi utama dalam merawat kepercayaan publik.

Menutup pernyataannya, Ruby menyampaikan pesan agar Cap Go Meh 2577 Kongzili menjadi inspirasi kolektif dalam memperkuat toleransi, optimisme, dan semangat kebersamaan.

“Cahaya lampion adalah metafora harapan. Ia mengingatkan bahwa dalam keberagaman, selalu ada terang yang menyatukan,” pungkasnya.

Lebih dari sekadar festival, Cap Go Meh di Kota Tangerang menjadi narasi kebudayaan tentang bagaimana identitas partikular dapat bertransformasi menjadi identitas bersama. Tradisi tidak berhenti sebagai ritus internal komunitas, melainkan berkembang menjadi perayaan kolektif yang memperkuat solidaritas kebangsaan.

Di tengah tantangan polarisasi sosial dan disrupsi informasi digital, perayaan ini menghadirkan ruang nyata perjumpaan antarmanusia—mereduksi jarak, membangun empati, dan memperkuat imajinasi kebangsaan yang inklusif.

Dengan demikian, Cap Go Meh di Kota Tangerang bukan sekadar agenda tahunan seremonial, melainkan pernyataan sosial bahwa keberagaman Indonesia bukan sumber fragmentasi, tetapi fondasi kekuatan nasional—dirawat melalui tradisi, dirayakan dalam kebersamaan, dan diteguhkan dalam semangat persatuan.

Red