Sumber1news
TANGERANG — Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 berlangsung khidmat dan penuh makna, dengan penegasan kuat dari Menteri Agus mengenai pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi terhadap warga binaan.
Acara yang dipimpin langsung oleh Menteri Agus ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Menteri Yusril, perwakilan DPR, jajaran Kepolisian, Menteri Sosial, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam membangun sistem pemasyarakatan yang lebih baik dan berkeadilan.

Dalam sambutannya, Menteri Agus menekankan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. “Kita harus memanusiakan manusia, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan turut memeriahkan acara tersebut, mulai dari donor darah, penampilan marching band, hingga penyaluran bantuan sosial. Kementerian juga memberikan dukungan nyata kepada keluarga warga binaan, berupa bantuan gerobak usaha serta dana sebesar Rp5 juta bagi penerima terpilih. Program ini diharapkan mampu membantu meningkatkan perekonomian keluarga serta menjadi langkah awal kemandirian.
Meski demikian, Menteri Agus tidak menampik masih adanya berbagai tantangan dalam sistem pemasyarakatan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah persoalan overkapasitas lembaga pemasyarakatan, yang sebagian besar dipicu oleh kasus narkotika. Selain itu, ia juga menyinggung masih adanya praktik penyimpangan oleh oknum di dalam lapas yang harus segera dibenahi.
Kementerian yang tergolong baru ini, lanjutnya, terus berupaya bekerja maksimal melalui sinergi dengan berbagai pihak, termasuk dengan menghadirkan program pelatihan keterampilan bagi warga binaan. Harapannya, mereka dapat memiliki bekal yang cukup saat kembali ke masyarakat.
Momentum Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 ini diharapkan menjadi titik evaluasi sekaligus penguatan komitmen untuk menciptakan sistem yang lebih humanis, bersih, dan berintegritas.
“Semoga ke depan, tidak ada lagi praktik-praktik menyimpang, dan pemasyarakatan benar-benar menjadi tempat pembinaan yang memanusiakan manusia,” pungkasnya.
(Amoy)

