Generasi Z atau Gen Z adalah kelompok demografis yang mencakup individu yang lahir antara tahun kira-kira 1995 sampai 2012. Mereka dikenal sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya dengan teknologi digital dan internet sejak lahir, sehingga disebut generasi “digital native.”

Gaya hidup Gen Z tahun 2025 ditandai oleh karakter digital native yang sangat terhubung dengan media sosial dan dunia digital, dengan tren konsumsi yang mengedepankan pengalaman seperti traveling, konser, dan kuliner daripada barang mewah. Mereka juga mengadopsi gaya hidup “soft life” yang menempatkan kenyamanan dan kesejahteraan pribadi sebagai prioritas, sambil tetap produktif dengan cara yang santai. Selain itu, Gen Z cenderung kreatif, sadar sosial, dan mengutamakan gaya fashion inklusif dan sustainability. Mereka juga aktif mencari peluang pengembangan karier dan sering menjalankan pekerjaan sampingan sebagai bentuk dukungan finansial

Selain terkenal dengan sifatnya yang ambisius, Gen Z juga memiliki jiwa yang sangat kritis dan pola pikir yang sangat kreatif. Hal inilah yang membuat mereka selalu diperhitungkan. Banyak sekali cara yang dilakukan Gen Z agar work life balance mereka capai. Salah satunya adalah dengen menyegarkan isi pikiran dengan nongkrong ditempat yang super nyaman.

Seringkali kita mengira nongkrong hanya untuk menghamburkan uang atau hanya untuk flexing di media sosial.Namun ternyata ada alasan psikologisnya,berikut alasannya:

Kebutuhan untuk meregulasi emosi,karena sibuk dengan berbagai aktivitas membuat Gen Z penat dan stress. Menurut psikologi,meluangkan waktu hanya 15 sampai 30 menit untuk duduk santai dan ngobrol dengan teman sebaya dapat membantu menghilangkan rasa penat dan membuat pikiran kembali tenang.

Anak muda suka nongkrong karena ini adalah kesempatan untuk berkumpul dengan teman sebaya,berbagi pengalaman dan saling mendukung dalam menghadapi tantangan hidup.

Selain itu mereka juga perlu orang-orang yang satu frequensi dan punya minat yang sama dengan mereka. Berjumpa dengan orang-orang yang sefrequensi membantu Gen Z merasa lebih terhubung dan merasa lebih nyaman.

Anak muda juga memiliki budaya kolektivisme dalam diri mereka, yang mendorong mereka untuk selalu berkumpul bersama dan tetap merasa terhubung tanpa merasa terlalu berbeda dari yang lain. (Satrio)