• Maret 7, 2026
  • 2 minutes Read
Ramadhan di Tangerang: Tradisi Berbagi Komunitas Grandong Perkuat Kebersamaan Masyarakat

‎Tangerang – sumber1news, Bulan suci Ramadhan kembali menghadirkan atmosfer spiritual yang khas di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar momentum ibadah, Ramadhan juga menjadi ruang sosial yang memperkuat nilai kebersamaan melalui tradisi berbagi yang telah diwariskan secara turun-temurun (komunikasi grandong Tangerang).

‎masyarakat berlomba-lomba menebar kebaikan. Mulai dari berbagi takjil di pinggir jalan, santunan kepada anak yatim, hingga kegiatan sosial yang melibatkan komunitas (grandong Tangerang) dan generasi muda. Fenomena ini tidak hanya menjadi ekspresi kepedulian sosial, tetapi juga mencerminkan kuatnya budaya gotong royong yang hidup di tengah masyarakat.

‎Secara sosiologis, tradisi berbagi di bulan Ramadhan merupakan bentuk internalisasi nilai keagamaan yang berpadu dengan kearifan lokal. Nilai empati, solidaritas, dan kepedulian sosial menjadi fondasi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Inilah yang menjadikan Ramadhan bukan hanya sebagai ritual spiritual, tetapi juga momentum penguatan ikatan sosial.

‎Para tokoh masyarakat menilai, tradisi berbagi ini menjadi simbol bahwa nilai kemanusiaan masih terjaga dengan baik. Bahkan di tengah dinamika modernisasi dan perubahan gaya hidup, semangat untuk saling memberi justru semakin terlihat nyata setiap kali Ramadhan tiba.

‎“Ramadhan selalu menghadirkan energi kebaikan. Masyarakat tidak sekadar menjalankan ibadah puasa, tetapi juga berlomba menebarkan manfaat bagi sesama,” ujar salah satu tokoh komunitas grandong Tangerang

‎Menariknya, generasi muda kini turut mengambil peran penting dalam menjaga tradisi tersebut. Melalui komunitas, organisasi, hingga media sosial, berbagai gerakan berbagi terus digalakkan sehingga menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

‎Dengan demikian kami dari (komunitas grandong Tangerang), Ramadhan tidak hanya menjadi bulan penuh berkah, tetapi juga menjadi panggung kemanusiaan di mana nilai berbagi terus hidup dan berkembang. Sebuah tradisi luhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat dan diyakini tidak akan pernah pudar oleh zaman.
‎Red//Iwan belo

‎Tangerang,07 maret 2026

‎#Bersaudaratanpasyarat
‎#Komunitasgrandong
‎#RamadhanBerbagi
‎#TradisiRamadhan
‎#SemangatBerbagi
‎#RamadhanPenuhBerkah

  • Maret 5, 2026
  • 2 minutes Read
Diduga Ada Pemalsuan Data, Sengketa Tanah 11.950 m² Antara Warga dan Pengembang Belum Temui Titik Terang

sumber1news
Tangerang – Sengketa kepemilikan lahan seluas 11.950 meter persegi kembali mencuat setelah pihak ahli waris pemilik tanah menyatakan bahwa lahan tersebut diduga telah dikuasai dan diperjualbelikan oleh pihak lain tanpa sepengetahuan pemilik sah.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan pihak keluarga, tanah tersebut awalnya dibeli oleh Tamami Imam Santoso dari Jarin sekitar tahun 1990–1991 dengan luas kurang lebih 11.950 m². Sejak saat itu, Imam Santoso mengaku tidak pernah menjual kembali tanah tersebut kepada pihak manapun.


Namun beberapa tahun kemudian, lahan tersebut diketahui telah dikuasai oleh pihak Lippo, yang mengklaim telah membeli tanah tersebut dari pihak yang sama, yakni Jarin, sekitar tahun 1995–1996. Padahal menurut keterangan keluarga, pada periode tersebut tanah tersebut sudah lebih dahulu menjadi milik Imam Santoso.

Pihak keluarga menduga adanya oknum yang terlibat dalam dugaan pemalsuan data kepemilikan tanah, yang melibatkan oknum dari instansi terkait serta pihak pengembang.

Untuk memperkuat klaim kepemilikan, pihak keluarga juga mengaku telah mengantongi surat pernyataan dari Pemerintah Desa Cicau yang menyatakan bahwa tanah tersebut diakui sebagai milik Imam Santoso, bukan milik pihak lain.

Meski demikian, perjuangan untuk mendapatkan kembali hak atas tanah tersebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa kejelasan penyelesaian. Bahkan saat ini, lahan yang menjadi objek sengketa tersebut dikabarkan telah diperjualbelikan kepada pihak lain, dan sebagian area sudah berdiri beberapa bangunan.

Pihak keluarga berharap agar instansi terkait, termasuk aparat penegak hukum, dapat mengusut tuntas dugaan pemalsuan data kepemilikan tanah tersebut serta memberikan kepastian hukum bagi pemilik yang sah.

Kasus ini pun diharapkan dapat menjadi perhatian serius agar tidak merugikan masyarakat dan mencegah terjadinya sengketa tanah serupa di kemudian hari.
Red.

  • Maret 5, 2026
  • 1 minute Read
Program Makanan Bergizi Gratis di SDN Cibodas 8 Disorot, Ditemukan Buah Tidak Layak Konsumsi

sumber1news

Tangerang, 5 Maret 2026
Pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Korwil Cibodas, khususnya di SDN Cibodas 8 Kota Tangerang, menuai sorotan. Pasalnya, dalam pembagian makanan kepada para siswa yang dilakukan oleh SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), ditemukan salah satu jenis buah yang diduga sudah tidak layak konsumsi atau dalam kondisi busuk.

Program MBG yang seharusnya memberikan asupan gizi bagi para siswa melalui pembagian makanan seperti buah, roti, susu, dan kacang-kacangan justru menimbulkan kekhawatiran. Beberapa pihak menilai kualitas makanan yang dibagikan perlu mendapat perhatian serius.

Iwan, salah satu awak media yang memantau kegiatan tersebut, menyayangkan adanya makanan yang dinilai tidak layak untuk dikonsumsi oleh siswa.
“Jauh dari kata program gizi kalau makanan yang dibagikan saja tidak layak untuk dikonsumsi atau sudah busuk,” ujar Iwan.

Ia juga meminta agar pihak SPPG bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tangerang lebih teliti dalam proses distribusi makanan kepada para siswa.

Menurutnya, pengawasan dan pemantauan secara langsung di setiap wilayah SPPG sangat penting agar kualitas makanan yang diberikan benar-benar memenuhi standar kelayakan dan kesehatan.

Masyarakat berharap program Makanan Bergizi Gratis yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan gizi anak-anak sekolah dapat berjalan dengan baik, sehingga tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
Red/ Iwan Belo.

  • Maret 4, 2026
  • 1 minute Read
Petugas Tambal Jalan Berlubang di Jalan Proklamasi Cimone pada Malam Hari, Demi Keselamatan Pengendara

sumber1news

Tangerang, 5 Maret 2026 – Sejumlah petugas melakukan penambalan jalan berlubang di ruas Jalan Proklamasi, Cimone, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, pada malam hari. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya memperbaiki kondisi jalan yang rusak sekaligus meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.


Berdasarkan pantauan di lokasi, para petugas terlihat bekerja menggunakan perlengkapan keselamatan seperti helm proyek dan rompi kerja. Mereka secara bergotong royong menutup lubang dengan material aspal, kemudian meratakannya menggunakan alat manual agar permukaan jalan kembali rata dan layak dilalui.

Perbaikan dilakukan pada malam hari guna menghindari kemacetan serta meminimalisir gangguan terhadap arus lalu lintas yang cenderung padat pada siang hari. Selain itu, petugas juga memasang rambu pengaman berupa kerucut lalu lintas sebagai penanda bagi pengendara agar lebih berhati-hati saat melintas di area pekerjaan.

Warga sekitar menyambut baik kegiatan tersebut. Pasalnya, kondisi jalan yang sebelumnya berlubang dinilai cukup membahayakan, terutama saat hujan turun ketika genangan air kerap menutupi lubang dan berpotensi menyebabkan kecelakaan.

Dengan adanya penambalan ini, diharapkan risiko kecelakaan akibat jalan rusak dapat ditekan, serta mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar, aman, dan nyaman.
RED// Iwan Belo

  • Maret 4, 2026
  • 2 minutes Read
Presiden Komisaris PT.JWM H. Otong Kosasih Menberikan Langsung Bantuan Sosial Kepada Anak Yatim Dan Kaum Dhuafa

sumber1news

Tangerang Kota-Dalam rangka berbagi kebahagiaan, H. Otong Kosasih bersama PT Jaya Wira Manggala (PT. JWM) berbagi kebaikan dengan memberikan “Bantuan Sosial (Bansos)” di Bulan Suci Ramadhan 1447 H/2026, di Majelis Mushola Mambul Ulum, Neglasari Kota Tangerang, Rabu 4 Maret 2026.

Sebanyak puluhan bantuan paket sembako diberikan kepada kaum yatim- dhuafa untuk meningkatkan kepedulian sosial dan mempererat silaturahmi kepada masyarakat sekitar.

Selaku Presiden Komisaris Perusahaan PT JWM, H. Otong Kosasih mengungkapkan, bahwa hal tersebut guna menciptakan kehangatan keluarga bagi anak yatim, meningkatkan empati sosial, dan memperkuat ikatan masyarakat.

“Ya kegiatan pembagian bansos, mudah- mudahan bisa kita lakukan terus- menerus. Kita keliling aja ya, nanti mudah-mudahan berguna untuk masyarakat yang lemah, untuk anak- anak kita anak yatim biar mereka bisa berprestasi kedepan,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa bantuan tersebut juga didukung PT JWM yang secara konsisten selalu memberikan bantuan sosial kepada kaum yang membutuhkan.

“Ini bantuan saya pribadi, dan Jaya Wira sebagai perwakilan itu istilahnya membantu aja,” jelas H. Otong Kosasih.

Ia berharap, kegiatan tersebut menjadi magnet dan contoh bagi dermawan dan perusahaan lain untuk melakukan perbuatan serupa.

“Dengan bantuan seperti ini. Ya…, harapannya ini jadi contoh lah, contoh bagi perusahaan- perusahaan juga ya kan, semua harus turun langsung lah kalau bisa, supaya bermanfaat bagi masyarakat yang lemah juga akan meningkat ekonominya secara betul dan tepat sasaran,” harapnya.

Disisi lain, mewakili warga penerima manfaat, Ketua DKM Mushola Mambul Ulum Ust. Iwan Hermawan mengapresiasi kebaikan atas pemberian bantuan yang diberikan H. Otong Kosasih yang diprakarsai PT JWM.

“Saya berterima kasih, dan mudah-mudahan ini langkah awal menjadi sesuatu yang lebih baik ke depannya, bisa menjalin silaturahim lagi yang lebih akrap diantara kami dan seluruh perusahaan yang peduli terhadap kaum yang membutuhkan apa di wilayah
Neglasari ini,” ucapnya.

Pihaknya juga turut memberikan munajat kebaikan kepada pihak dermawan (H. Otong Kosasih) dan PT JWM dengan segala kebaikan doa atas kebaikan yang sudah diberikan.

“Tentunya saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Haji Otong Kosasih yang sudah hadir pada hari ini. Mudah- mudahan beliau sehat
panjang umur dan diberikan keberkahan Allah S.W.T. Amin,” tandasnya

( Ichsan / Red )

  • Maret 2, 2026
  • 1 minute Read
Warga apresiasi respon sigap polri

Sumber1news

Tangerang

Ahmad marup (62) dan Siti Nurcholisah (48) warga kp larangan RT 002 RW 007 kelurahan Sukatani kec rajeg kabupaten Tangerang.. mengancungi jempol dan sangat mengapresiasi respon polri terkait laporannya tentang adanya lansia terlantar yang sudah beberapa hari tinggal di rumahnya..

Namun karena merasa risau karena lansia tersebut tidak ada yang menjemput dan sdr Siti Nurcholisah yang merawat lansia terlantar adalah perempuan dan lansia tersebut dalam keadaan sakit. A marup lalu meminta bantuan kepada saudara firmansyah wartawan gwi kabupaten Tangerang

Menindak lanjuti laporan tsb saudara firman menghubungi call center 110 lalu di tindak lanjuti oleh customer care Polresta Tangerang
Setelah menerima laporan dan mendengar kronologi laporan di tindak lanjuti oleh Polsek Rajeg dengan mengirim Briptu Miftah anggota Polsek Rajeg

Sesampainya di lokasi Briptu Miftah bertemu dengan sdr Ahmad marup, sdr Siti Nurcholisah dan lansia yang terlantar . Setelah beberapa pertanyaan dan di rasa cukup lalu lansia tsb di bawa oleh Briptu Miftah untuk selanjutnya akan di serahkan ke dinas sosial kabupaten Tangerang

Atas cepatnya responsif polri dalam menerima laporan tsb sdr Ahmad marup sangat mengapresiasi dan berharap kepolisian Republik Indonesia semakin dekat dengan masyarakat imbuhnya

Red.

  • Maret 1, 2026
  • 3 minutes Read
Cap Go Meh 2577 di Kota Tangerang: Cahaya Harmoni yang Menyatukan Harapan dan Kebangsaan

sumber1news

Kota Tangerang

Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili di Kota Tangerang menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2026. Momentum hari ke-15 dalam kalender lunar ini tidak sekadar dimaknai sebagai tradisi seremonial, melainkan sebagai simbol penyempurnaan doa, artikulasi harapan, dan refleksi spiritual umat Tionghoa dalam menyongsong tahun yang baru.

Perayaan dipusatkan di Klenteng Boen Tek Bio, yang terletak di Jalan Bhakti, Pasar Lama, Kota Tangerang, pada Senin malam (2/3/2026). Klenteng ini merupakan salah satu rumah ibadah tertua di Kota Tangerang yang selama berabad-abad menjadi episentrum spiritual, sosial, dan kultural komunitas Tionghoa. Lanskap klenteng yang dihiasi ratusan lampion menghadirkan atmosfer sakral sekaligus inklusif, mencerminkan bagaimana tradisi religius mampu menjadi ruang perjumpaan lintas identitas dalam bingkai kebangsaan.

Secara etimologis, Cap Go Meh berarti “malam kelima belas”, yang diperingati setiap tanggal 15 bulan pertama dalam kalender lunar Tiongkok. Dalam perspektif Konghucu dan Buddhis, momen ini memiliki dimensi teologis sebagai fase penyempurnaan doa sejak awal tahun. Ia menjadi ruang kontemplasi, di mana harapan tidak berhenti pada simbol ritual, melainkan bertransformasi menjadi etika sosial yang membumi.
Rangkaian persembahyangan bersama, penyalaan lilin, serta doa keselamatan bagi bangsa dan masyarakat merefleksikan kesadaran kolektif bahwa spiritualitas memiliki implikasi sosial. Lampion yang menggantung bukan sekadar ornamen estetis, tetapi metafora terang harapan, optimisme, dan kebajikan yang diharapkan menyertai perjalanan setahun ke depan.

Ketua Perkumpulan Boen Tek Bio, Ruby Santamoko, menegaskan bahwa Cap Go Meh 2577 Kongzili merupakan momentum spiritual yang merepresentasikan kristalisasi harapan umat di tengah dinamika sosial yang terus bergerak.

“Ini adalah fase kontemplatif. Doa-doa yang dipanjatkan sejak awal tahun digenapkan dalam kesadaran spiritual. Harapan harus diwujudkan dalam praktik hidup yang membawa kedamaian dan kebajikan sosial,” ujarnya.

Menurutnya, dalam konteks Kota Tangerang yang majemuk, Cap Go Meh telah berkembang menjadi ruang harmoni lintas etnis dan agama. Keterbukaan perayaan bagi publik mencerminkan komitmen Boen Tek Bio dalam merawat toleransi sebagai fondasi identitas kebangsaan.

“Keberagaman bukan sekadar realitas demografis, melainkan anugerah yang memerlukan kesadaran kolektif. Cap Go Meh adalah simbol kohesi sosial dan penguatan identitas Indonesia yang plural,” tegasnya.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi budaya, Perkumpulan Boen Tek Bio mengedepankan pendekatan adaptif dalam menjaga autentisitas tradisi. Substansi ritual tetap dipertahankan, sementara strategi komunikasi diperluas melalui edukasi sejarah klenteng, literasi budaya, serta pelibatan aktif generasi muda dalam kepanitiaan dan kegiatan sosial.

Langkah tersebut dinilai krusial untuk memastikan regenerasi nilai berlangsung secara organik dan berkelanjutan. Tradisi, dalam perspektif ini, tidak dibekukan sebagai artefak masa lalu, tetapi dihidupkan sebagai energi sosial yang relevan dengan tantangan zaman.
Adapun tantangan terbesar tahun ini, menurut Ruby, bukan semata persoalan teknis penyelenggaraan, melainkan menjaga persepsi publik agar memahami Cap Go Meh sebagai perayaan yang inklusif dan memiliki nilai universal. Pendekatan dialog, transparansi, dan kolaborasi lintas komunitas menjadi strategi utama dalam merawat kepercayaan publik.

Menutup pernyataannya, Ruby menyampaikan pesan agar Cap Go Meh 2577 Kongzili menjadi inspirasi kolektif dalam memperkuat toleransi, optimisme, dan semangat kebersamaan.

“Cahaya lampion adalah metafora harapan. Ia mengingatkan bahwa dalam keberagaman, selalu ada terang yang menyatukan,” pungkasnya.

Lebih dari sekadar festival, Cap Go Meh di Kota Tangerang menjadi narasi kebudayaan tentang bagaimana identitas partikular dapat bertransformasi menjadi identitas bersama. Tradisi tidak berhenti sebagai ritus internal komunitas, melainkan berkembang menjadi perayaan kolektif yang memperkuat solidaritas kebangsaan.

Di tengah tantangan polarisasi sosial dan disrupsi informasi digital, perayaan ini menghadirkan ruang nyata perjumpaan antarmanusia—mereduksi jarak, membangun empati, dan memperkuat imajinasi kebangsaan yang inklusif.

Dengan demikian, Cap Go Meh di Kota Tangerang bukan sekadar agenda tahunan seremonial, melainkan pernyataan sosial bahwa keberagaman Indonesia bukan sumber fragmentasi, tetapi fondasi kekuatan nasional—dirawat melalui tradisi, dirayakan dalam kebersamaan, dan diteguhkan dalam semangat persatuan.

Red

  • Februari 27, 2026
  • 2 minutes Read
Forum PPPK Teknis Kota Tangerang Kecewa, Tuntut Keadilan TPP dan Penghapusan Kesenjangan Gaji

sumber1news

KOTA TANGERANG — Keresahan dan kekecewaan meluas di kalangan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Teknis di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang. Kondisi ini mendorong terbentuknya Forum PPPK Kota Tangerang sebagai wadah aspirasi untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan.

Ketimpangan kebijakan, khususnya terkait pendapatan dan tunjangan, menjadi pemicu utama munculnya forum tersebut. Dalam upaya mencari kejelasan, Forum PPPK Teknis telah mengajukan permohonan audiensi kepada pimpinan DPRD Kota Tangerang.

Surat permohonan audiensi tersebut dikirim pada Senin, 23 Februari 2026, dengan agenda pertemuan yang dijadwalkan pada Kamis, 26 Februari 2026. Namun hingga kini, pihak forum mengaku belum menerima tanggapan dari pimpinan dewan.

Padahal sebelumnya, Ketua DPRD Kota Tangerang sempat mengumumkan bahwa Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) bagi PPPK akan mengalami kenaikan sebesar 15 persen pada awal tahun 2026. Kenyataannya, hingga memasuki akhir Februari, kenaikan tersebut belum terealisasi.

“Kami hanya ingin mempertanyakan kejelasan terkait kenaikan TPP yang sudah diumumkan. Tapi sangat disayangkan, tidak ada respons sama sekali dari pimpinan dewan. Ini sungguh miris,” ujar Ketua Forum PPPK Teknis Kota Tangerang.

Kekecewaan semakin memuncak akibat adanya kesenjangan pendapatan yang dinilai tidak adil. PPPK yang lulus seleksi justru menerima penghasilan sekitar Rp3,7 juta (gaji pokok dan tunjangan), sementara PPPK PW yang tidak lulus seleksi disebut-sebut memperoleh penghasilan antara Rp5 juta hingga Rp7 juta.

Ironisnya, berdasarkan informasi yang dihimpun, tenaga outsourcing seperti office boy (OB) dan satuan pengamanan (satpam) di lingkungan Pemkot Tangerang bahkan menerima gaji sekitar Rp5,4 juta per bulan.
Ketimpangan tersebut dinilai mencederai rasa keadilan, terutama bagi PPPK yang telah melalui proses seleksi resmi namun justru menerima penghasilan lebih rendah.

Atas dasar itu, Forum PPPK Teknis Kota Tangerang mendesak para pemangku kebijakan untuk segera memberikan solusi konkret. Mereka menuntut adanya penyesuaian kesejahteraan, termasuk realisasi kenaikan TPP serta pengakuan dan penyesuaian ijazah bagi PPPK K2 yang telah menyelesaikan pendidikan S1.

Forum berharap pemerintah daerah dan DPRD Kota Tangerang dapat segera merespons aspirasi ini secara serius, demi menciptakan keadilan dan meningkatkan kesejahteraan para PPPK di Kota Tangerang.

Red

  • Februari 26, 2026
  • 2 minutes Read
Sengketa 1.500 Hektare Memanas di Pakkat, Ahli Waris Raja Alang Pardosi Gugat PT Energy Sakti Sentosa

sumber1news

HUMBANG HASUNDUTAN — Konflik agraria seluas kurang lebih 1.500 hektare di wilayah Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, resmi bergulir ke meja hijau. Sebanyak sebelas ahli waris keturunan Raja Alang Pardosi mengajukan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) terhadap PT Energy Sakti Sentosa ke Pengadilan Negeri Tarutung.


Gugatan tersebut terdaftar dengan nomor perkara 21/PDT.G/2026/PN.TRT, terkait klaim kepemilikan tanah ulayat yang dikenal sebagai Sipulak I dan Sipulak II.

Kuasa hukum penggugat, Beringin Tua Sigalingging, S.H., M.H., menyatakan bahwa lahan tersebut merupakan tanah ulayat milik keturunan Raja Alang Pardosi yang diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-7.

“Klien kami tidak pernah menjual atau mengalihkan hak atas tanah tersebut kepada pihak manapun. Namun, pihak tergugat diduga secara melawan hukum telah menguasai dan mensertifikatkan lahan melalui Turut Tergugat,” ujarnya.

Dalam petitum gugatan, penggugat meminta majelis hakim menyatakan Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 3, 6, 7, dan 8 atas nama PT Energy Sakti Sentosa cacat hukum serta memerintahkan pencoretan dari register pertanahan.

Tolak Mediasi di Luar Pengadilan
Di sisi lain, melalui surat tertanggal 25 Februari 2026 yang ditujukan kepada Bupati Humbang Hasundutan, pihak penggugat menyatakan menolak menghadiri mediasi yang difasilitasi pemerintah daerah. Mereka menilai proses tersebut berpotensi tidak netral karena diduga berpihak pada kepentingan proyek PLTA.

Penggugat memilih agar proses mediasi tetap dilakukan dalam persidangan yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Maret 2026 di Pengadilan Negeri Tarutung.
Selain itu, pihak ahli waris juga mengaku mengalami tekanan di lapangan.

Mereka menyebut adanya dugaan intimidasi oleh oknum aparat bersenjata laras panjang yang berada di lokasi sengketa.
Dugaan Tekanan dan Permohonan Perlindungan Hukum
Menurut keterangan kuasa hukum, pada 27 Februari 2026 diduga akan dilakukan pembukaan portal secara paksa di area sengketa, meskipun perkara telah terdaftar dan masih dalam proses hukum.
“Kami mendapat informasi akan ada keterlibatan aparat dari kepolisian, Satpol PP, hingga Brimob dengan membawa senjata laras panjang. Hal ini menimbulkan rasa takut bagi klien kami,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, pihak penggugat telah mengirimkan surat permohonan perlindungan hukum kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia, Presiden RI, serta Komisi III DPR RI.

Pihak kuasa hukum menegaskan, apabila ditemukan adanya tindakan intimidasi atau pelanggaran hukum oleh pihak manapun, kliennya tidak akan ragu untuk melaporkan secara resmi kepada instansi berwenang.

“Kami berharap semua pihak menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi,” tegasnya.

Red

  • Februari 26, 2026
  • 2 minutes Read
Kabel Misterius Terpasang Subuh Hari di Jalan Merdeka, Ada Pengakuan Oknum Ngaku TNI

sumber1news
TANGERANG,- Aktivitas pemasangan kabel udara yang diduga milik Telkom Indonesia menimbulkan tanda tanya di Jalan Merdeka, Kota Tangerang, Rabu (25/2) sekitar pukul 04.00 WIB.

Pekerjaan yang dilakukan saat kondisi jalan masih lengang itu terlihat janggal. Sejumlah pekerja tampak memasang kabel pada tiang utilitas tanpa dilengkapi papan proyek maupun dokumen perizinan di lokasi.

Saat dikonfirmasi di lapangan, seorang mandor yang mengaku bernama Adam mengaku tidak mengetahui terkait izin maupun dasar pekerjaan yang dilakukan.
“Saya nggak tahu pak, saya hanya disuruh. Silakan hubungi saja Pak S,” ujarnya singkat sambil menyerahkan telepon genggamnya.

Ketika dihubungi, sosok berinisial S mengaku sebagai anggota TNI. Ia menyebut hanya menjalankan perintah dari atasannya.

“Saya hanya ditugaskan oleh senior,” ucapnya, sembari menyebut nama seseorang berpangkat Serka, tanpa menjelaskan secara rinci dasar penugasan maupun legalitas pekerjaan tersebut.
Keanehan semakin terlihat setelah awak media melakukan konfirmasi. Aktivitas pemasangan kabel mendadak terhenti. Hingga siang hari, tidak terlihat lagi pekerja di lokasi.

Kabel yang sebelumnya dipasang pun tampak belum terpasang secara permanen, bahkan sebagian hanya digantungkan pada pohon di sekitar area, menambah kesan pekerjaan dilakukan secara terburu-buru dan tanpa prosedur yang jelas.

Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya pelanggaran, baik terkait pemanfaatan ruang milik jalan maupun aspek keselamatan. Selain berpotensi membahayakan pengguna jalan, pemasangan kabel pada pohon juga dinilai merusak estetika kota.

Warga pun mendesak Pemerintah Kota Tangerang agar segera turun tangan untuk menelusuri legalitas pekerjaan tersebut dan mengambil tindakan tegas jika ditemukan pelanggaran.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Telkom Indonesia maupun instansi terkait terkait status pemasangan kabel udara tersebut.

Red

Berita Populer

  • Maret 7, 2026
  • Maret 5, 2026
  • Maret 5, 2026
  • Maret 4, 2026
  • Maret 4, 2026
  • Maret 3, 2026
Verified by MonsterInsights